Batubara

Batu Bara Genap 19 Tahun, Masyarakat Masih Menunggu Hadiah yang Tak Kunjung Datang

post-img
Foto : Kondisi jalan pertanian di Pematang Jernang, Desa Perupuk, Kecamatan Lima Puluh Pesisir yang selama bertahun-tahun tak pernah tersentuh pembangunan, meski menjadi nadi ekonomi petani setempat

LDberita.id - Batubara, Rapat Paripurna Istimewa dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-19 Kabupaten Batu Bara digelar dengan khidmat di Ruang Paripurna DPRD, Senin (8/12/2025),

Acara berlangsung meriah, sambutan disampaikan panjang lebar, capaian pembangunan dipaparkan penuh optimisme, namun di luar gedung, masyarakat justru mempertanyakan hadiah apa yang sebenarnya mereka terima di ulang tahun kabupaten mereka sendiri.

Ramli Sinaga, mengungkapkan kegelisahan yang kini terasa di tengah masyarakat Batu Bara. Menurutnya, peringatan HUT Batu Bara kali ini ibarat,“ulang tahun tanpa hadiah.

“Sudah 19 tahun usia kabupaten ini, tapi masyarakat Batu Bara masih bertanya, hadiah apa yang sebenarnya mereka dapat, Jalan masih rusak, banjir masih datang, dan petani masih berjuang sendiri di ladang-ladang mereka,” ujar Ramli.

Dalam sambutannya, kepala daerah memaparkan deretan capaian pertumbuhan ekonomi naik, angka kemiskinan turun, pembangunan terus berjalan, pelayanan publik diperbaiki. Angka-angka itu mengalir deras seperti sebuah pidato yang telah berkali-kali diperbaiki untuk tampil meyakinkan.

Namun, masyarakat Batu Bara justru menilai bahwa capaian tersebut belum bertransformasi menjadi kesejahteraan nyata. Mereka menyebut angka-angka itu seperti dekorasi ulang tahun, indah di panggung, tetapi tidak memberi kenyamanan di tenga-tengah masyarakat.

Salah satu contoh nyata berada di Pematang Jernang, Desa Perupuk, Kecamatan Lima Puluh Pesisir. Para petani di sana mengaku kesulitan mengangkut hasil panen akibat kondisi jalan pertanian yang rusak parah. Mereka bahkan menyampaikan bahwa jalan itu sudah lebih dulu ada sebelum kabupaten Batu Bara mencapai usia 19 tahun.

“Kalau jalan tetap begini, panen bukan lagi membawa senyum, tapi beban,” keluh seorang petani yang enggan disebut namanya. Keluhan tersebut menjadi cermin bahwa meskipun Batu Bara sudah berumur 19 tahun, pembangunan dasar di sejumlah wilayah masih berjalan terseok-seok, ujarnya

Ramli menegaskan, masyarakat berharap HUT Batu Bara tidak hanya menjadi ajang pesta, akan tetapi momen untuk melihat jujur apa yang belum dikerjakan pemerintah Batu bara hari ini.

“HUT ke-19 ini terasa kosong, ulang tahun harusnya membawa kebahagiaan bukan mengingatkan kita pada daftar panjang pekerjaan yang belum selesai,” ujarnya.

Dia juga menambahkan bahwa pemerintah kabupaten Batu Bara harus mengevaluasi realitas di lapangan, bukan sekadar menegaskan keberhasilan melalui presentasi Power Point dalam ruang ber-AC.

Ketika pimpinan daerah menyampaikan bahwa, bersama kita bangun Batu Bara bahagia, masyarakat memilih untuk menahan tepuk tangan, Bagi mereka, kebahagiaan tidak diukur dari slogan, tetapi dari jalan yang bisa dilalui, sawah yang tidak terendam, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, serta harga pasar yang stabil.

HUT ke-19 tahun ini seolah mengingatkan bahwa kabupaten sudah cukup dewasa untuk menghadirkan pemerataan pembangunan namun nyatanya, masih banyak desa yang berjalan di tempat.

Masyarakat Batu Bara berharap usia ke-19 bukan hanya menjadi perayaan, tetapi juga titik balik. Sebuah momen untuk menjawab kegelisahan warga Batu Bara, khususnya petani, buruh, nelayan, dan mereka yang tinggal jauh dari pusat kabupaten Batu Bara." tandasnya. (Boy)

Berita Terkait