Batubara (LADANG BERITA) Aktivis Muda Nahdhatul Ulama (NU) Kabupaten Batubara, Jasmi Assayuti mengingatkan anggota DPRD Batubara Edisyah Putra agar lebih cerdas dalam memahami postingan kawan kawan di media sosial (medsos).
"Sebagai anggota dewan, Edisyah harus cerdas memaknai arti sebuah kalimat. Jangan tergopoh gopoh mengomentari postingan kawan kawan. Baca dan telaah dulu baik baik apa maksud postingan tersebut," kata Jasmi, Jumat (24/1/2020), di Medan.
Sebab, lanjut Jasmi, jika salah mengomentari postingan, apalagi kalau komentarnya tidak sesuai dengan substansi postingan, ini justru akan mempermalukan diri sendiri.
"Bukan hanya mempermalukan dia sendiri, tapi juga bikin malu institusi DPRD Batubara. Sebab komentar tersebut juga menunjukkan sejauh mana kecerdasan dan kualitas anggota dewan. Akhirnya masyarakat akan berkata, "Oh, hanya segitu rupanya kecerdasan Anggota DPRD Batubara"," ujarnya.
Hal itu dikatakan Jasmi menyikapi komentar akun Facebook Edisyah Putra terhadap postingan akun Fb Moeis Chandan Pamesha. Edisyah Putra dikenal sebagai salah seorang anggota DPRD Batubara dari Partai Bulan Bintang (PBB).

Untuk diketahui, akun Fb Moeis Chandan Pamesha, pada dua hari lalu membuat postingan yang berbunyi, 'kabupaten batubara ini macam gak punya DPRD. soalnya, sejak anggotanya dilantik pada 25 november 2019, sampai sekarang, seingatku hanya dua berita kegiatan DPRD batubara yang pernah kubaca di media online. pertama, berita pelantikan anggota dewan. kedua, berita pelantikan pimpinan dewan. tok, hanya itu...'.
Sementara dalam kolom komentar, akun Edisyah Putra berkomentar, 'Fitnah tuh
1, kunjungan ke waskita 2, menindak lanjuti Galian C di air putih 3. Kunjungan ke dinas pertanian, berkurangnya distribusi pupuk subsidi di BB 4, Dinas perairan n ketahanan pangan Sumut 5. Dll'.
Komentar inilah yang menurut Jasmi menunjukkan kecerdasan Edisyah dalam memaknai sebuah kalimat masih rendah. Pandangan Jasmi, Edisyah berkomentar seperti itu karena dia berasumsi postingan Moeis tersebut bermakna anggota DPRD tidak ada kegiatan pasca dilantik.
"Padahal postingan Moeis itu tidak ada mengarah ke sana. Menurut pemahaman saya, postingan Moeis justru menyentil kinerja kawan kawan wartawan di Batubara. Atau lebih pas nya lagi postingan Moeis itu adalah upaya dia untuk memacu kinerja teman teman wartawan yang satu profesi dengan dirinya," jelasnya.
Di postingan itu, kata Jasmi, sangat jelas Moeis membahas masalah minimnya pemberitaan tentang kegiatan dewan. Bukan kegiatan dewannya yang minim. Kita semua tahu, yang berkaitan dengan pemberitaan itu adalah kerjaan wartawan, bukan kerjaan anggota dewan.
"Jadi kenapa kok malah anggota dewan yang 'kebakaran jenggot'. Sementara kawan kawan wartawan yang disentil malah ketawa ketiwi mengomentari postingan tersebut," kata Jasmi tersenyum geli.
Kata Jasmi, di awal postingannya Moeis menulis 'kabupaten batubara ini macam gak punya DPRD'. Kenapa dia menulis seperti itu? Jawabnya, lanjut Jasmi, karena DPRD adalah sebuah lembaga negara yang merupakan gudang berita.
"Kenapa saya sebut sebagai gudang berita? Karena DPRD isinya adalah para wakil rakyat, penyambung lidah rakyat. Jadi setiap ada masalah rakyat, anggota dewan harus menyikapinya. Makanya aneh rasanya jika pemberitaan tentang aktifitas dewan itu minim, sementara banyak persoalan yang dihadapi masyarakat. Jadi, kalau berita dewan minim, wajar saja disebut daerah itu seperti tak punya DPRD," ulasnya.
Karena itu dia meminta agar Edisyah lebih banyak belajar lagi dalam berkomunikasi. "Sebab nanti masyarakat Batubara juga yang malu punya anggota dewan seperti itu. A kata orang, Z jawaban dia. Gak nyambung jadinya. Tapi saya bisa memahaminya karena Edisyah masih muda, dan harus banyak belajar lagi," ujar pria kelahiran Titi Merah, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Batubara, yang bekerja sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi di Medan.
Jasmi juga meminta Edisyah agar lebih fokus melaksanakan fungsinya sebagai wakil rakyat. Tak perlu mengurusi hal hal sepele seperti itu, apalagi komentarnya bernada tendensius.
"Ingat, warga Batubara saat ini sedang menunggu kinerja Anda. Buktikan bahwa Saudara peduli dengan nasib masyarakat Batubara yang sudah mengantarkan Saudara ke kursi dewan tersebut," pungkasnya.
Sementara pemilik akun Moeis Chandan Pamesha, Abdul Muis, hanya tertawa saja ketika ditanya sikapnya tentang postingannya di Fb itu dianggap sebagai fitnah. "Biasalah itu. Namanya Bapak itu masih muda. Salah dalam memahami kalimat aja nya itu," kata Muis melalui pesan WhatsApp, Jumat (24/1/2020).
Ketika ditanya apa makna postingan di akun Fb-nya tersebut, Muis yang bekerja sebagai redaktur di media online zulnas.com itu mengaku bahwa itu pertanyaan serius, yang harus dijawabnya secara serius.
"Begini ya, saya ingin agar kawan kawan wartawan memaksimalkan fungsi dan kinerjanya sebagai jurnalis. Namun saya lihat pemberitaan di media online tentang kegiatan DPRD itu sangat minim. Makanya melalui postingan itu saya ingin memberikan motivasi kepada kawan kawan wartawan supaya lebih "menggeliatkan" peranan pers di Batubara ini," kata Muis.
"Kalau seandainya pun kawan kawan wartawan kesulitan mendapatkan informasi di DPRD Batubara, sebaiknya diberitakan saja kesulitan itu. Ingat, kita ini wartawan, bukan sales. Kalau sales, dia berusaha agar calon pembeli mau berkomunikasi dengannya. Tapi kalau wartawan, diam pun orang bisa jadi bahan pemberitaan," pungkasnya.(odan)
.jpg)




