Sosial

Semalam Baginya, Tujuh Hari Bagi Dunia: Jamuan di Negeri yang Tak Terlihat

post-img
Foto : Sudar sejak pagi tadi mencangkul kebun hendak ditanami bibit cabai. Namun jam 12.15 setelah makan dan minum hantaran istrinya, ia sangat mengantuk. Bersandarlah dia di pokok pohon nangka diujung kebun hingga tertidur

KETIDURAN, Sudar sejak pagi tadi mencangkul kebun hendak ditanami bibit cabai. Namun jam 12.15 setelah makan dan minum hantaran istrinya, ia sangat mengantuk. Bersandarlah dia di pokok pohon nangka diujung kebun hingga tertidur.

Malam itu orang sekampung ribut. Istri Sudar melapor ke kepala kampung, suaminya sudah lewat isya' belum kembali dari kebun sejak pagi. Padahal biasanya sebelum adzan asyar, ia sudah kembali.

Kepala kampung segera memukul kentongan di balai kampung, mengundang orang2 untuk berkumpul. Setelah mereka berkumpul kepala desa memerintahkan semua lelaki dewasa bergerak ke 4 arah mata angin, di mulai dari kebun Sudar, mencari keberadaannya. Dibagilah orang2 itu menjadi 4 grup untuk menelusuri kebun, sungai, dan bukit di sekeliling kebun Sudar.

Sudar terbangun dari tidur siangnya yang lelap, bengkit ia menuju sungai, ia basuh muka, tangan, dan kakinya untuk menyegarkan diri.

Dia berjalan dari sungai menuju rumahnya, peralatan berkebun dia tinggal di gubug pinggiran kebun. Melangkah gontai karena rasa bersalah ketiduran terlalu lama hingga matahari hampir tenggelam.

Dia melangkah perlahan, hafal betul jalan kecil dari kebun ke rumah di kampungnya, tetapi Sudar heran, kenapa terasa jauh sekali ke rumahnya. Sudah hampir sejam ia berjalan, padahal seharusnya lima menit sampai ke rumahnya.

Duduklah ia di pinggir jalan karena merasa capai. Dilihatnya beberapa orang berjalan melewatinya, tapi tak ada satupun yang kenal. Ia sempatkan bertanya, "Bapak ibu mau kemana?" Salah seorang menyahut, "Pesta makan² di rumah pak Lurah," salah seorang dari mereka menjawab.

Sudar terbengong heran, ia ingin bertanya arah ke rumahnya yang tidak ia temukan, tetapi orang² itu sudah menjauh. Sudar bangkit berdiri dan berjalan ke arah orang² itu pergi.

Tak sampai lima menit, Sudar melihat lampu² terang di sebuah lapangan yang luas. Ia tidak melihat sebuah rumahpun di sana, sebuah panggung hiburan yang menyuguhkan tari dan nyanyi nampak jelas di depan,  dan banyak orang berkerumun mengambil makanan yang berlimpah di atas meja besar.

Sudar ingin bertanya, tetapi seorang yang nampak berwibawa menepuk pundaknya, "Makanlah dulu bersama yang lain, setelah itu silahkan menonton hiburan yang ditampilkan."

Sudar seolah terhipnotis, mengangguk pelan, mengikuti barisan antri makanan, mengambil makanan yang tersaji, dan duduk menyendiri di bawah pohon jambu, menikmati makanan itu.

Sesudah makan, Sudar mendekati panggung tontonan, melihat orang menyanyi dan menari. Terkesima karena sudah lama dia tidak menikmati hiburan di desanya. Hanya Sudar membatin, "Kok orang² yang nonton tidak ada satupun yang bicara, asik nonton tanpa berkata."

Capai menonton hiburan, Sudar juga merasa ini sudah lewat tengah malam, ia hendak tidur dulu, ia sama sekali lupa niatnya untuk pulang sejak di desa ini.

Tapi mau tidur dimana, ini lapangan terbuka, gak ada rumah di mana ia bisa ikut tiduran di teras. Dilihatnya seonggok jerami di ujung lapangan. Ditatanya sebentar lalu ia rebahan, dan segera terlelap.

Ini haru ketujuh sudah Sudar tidak pulang ke rumah. Tetua kampung bilang, jika malam ini tak ditemukan, pencarian akan dihentikan sementara. Selama 7 hari ini penduduk bergiliran mencari Sudar kesana kemari.

Tetua kampung menyeruput rokok lintingannya di teras rumah dengan gelisah. Tetiba ada seorang pemuda berlari ke arahnya. 'Kakek, Sudar ditemukan, pingsan di gubug lik Karto, selisih 7 kebun dari kebun Sudar."

Ia bangkit, "Ayo kita lihat," sembari bergegas ke kebun.

Sudar sudah sadar. Dikerumuni banyak orang, dia ditanya pergi kemana saja. Sudar bilang, semalam dia melihat keramaian di desa sebelah. "Semalam? Kamu sudah tidak pulang 7 hari 7 malam." Celetuk seseorang.

Sudarpun bengong, ia merasa hanya pergi semalam.

Berita Terkait